KUDUS – Kritik dan kritis mestinya menjadi budaya akademik para mahasantri Ma’had Aly. Terlebih, tradisi kritik dan kritis ini sudah tercatat dalam sejarah Islam, bahkan sudah ada sejak masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikian poin penting yang dizampaikan oleh Dr. Moh. Fauzi M.Ag dari UIN Walisongo Semarang, yang didaulat menjadi narasumber kuliah umum (jalsah ula) Ma’had Aly Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Rabu (10/7/2019).
Dalam kuliah umum (jalsah ula) yang dilangsungkan di Aula Pondok Ath – Thullab itu, Moh. Fauzi mengulas materi bertajuk ‘’Membumikan Tradisi Keilmuan As-Salaf Ash-Shalih di Dunia Akademik’’.
‘’Ada tiga syarat dalam melakukan kritis. Pertama perlunya membangun fakta riil dan memastikan latar belakang yang dijadikan landasan kritik,’’ ungkapnya dalam kuliah umum yang dibuka oleh Mudir Ma’had Aly TBS, KH. Dr. Ahmad Faiz Lc. MA.
Kedua, kritik harus didukung dengan kejujuran dan kapabilitas moral pengkritik. Pentingnya kejujuran dan moral ini, untuk menghindarkan dari perkataan bohong dan dusta yang dilarang Islam. ‘’Ketiga yaitu kritik harus dilakukan secara proporsional, sesuai dengan obyeknya,’’ lanjutnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *