Probolinggo, nuruljadid.net- Sebanyak 86 mahasantri Ma’had aly Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi di wisuda pada hari Minggu (28/07) pagi ini. Acara yang berlangsung selama dua hari satu malam ini, ditutup dengan pengukuhan wisudawan-wisudawati di AULA Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ).

Acara wisuda akbar merupakan acara rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini, ma’had aly Nurul Jadid sukses melaksanakan acara ini ke lima kalinya. Menurut Muhammad Maghfur Ramadhani selaku ketua panitia mengatakan, tujuan diadakan acara semacam ini adalah sebagai bentuk bukti formal bagi peserta didik ma’had aly Nurul Jadid yang telah menjalani proses yang tak mudah.

“Tujuan acara ini adalah sebagai bukti formal bahwa mereka telah menyelesaikan pendidikan yang ditempuh setelah melalui beberapa tahapan dan proses yang tidak mudah, sesuai dengan takhassus masing masing program” ujar pria asal Madura saat sambutan ketua panitia.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara wisuda akbar ke 5 ini cukup istimewa.  Pada acara ini dilaksanakan dengan tiga sesi. Sesi pertama yaitu demonstrasi. Setiap mahasantri akan ditanyakan satu persatu terkait materi dan hafalan pelajaran yang telah dipelajari selama satu tahun, hingga masing masing wisudawan mendapat bagian pertanyaan dari setiap penguji.

kedua, acara perpisahan dilaksanakan pada malam harinya tepatnya ba’da isya’. Acara ini dikemas dengan penyampaian mudir (Rektor,- Red) Ma’had aly untuk mengunggah motivasi dalam hal menuntut ilmu dan membina akhlaq mulia. “Dari kurang lebih tiga belas ribu santri Nurul Jadid, hanya segelintir santri yang ilmunya manfaat. Oleh karena itu, menuntut ilmu yang manfaat itu susah.

Seandainya semua santri ilmunya manfaat, mereka semua bermanfaat saat di masyarakat, insya allah Indonesia akan jaya. Dalam kesempatan ini, saya akan menjelaskan hal-hal yang membuat ilmu manfaat sebagaiamana diterangkan dalam kitab ta’limu al muta’allim.” Ungkap Kh. Romzi Al-Amiri Mannan.

Setelah itu dilanjut dengan kesan dan pesan dari musyrifin (ustaz,- Red) dan perwakilan wisudawan, serta berbagai macam penampilan. Sesi Ke tiga merupakan acara puncak yaitu pengukuhan dan penobatan wisudawan terbaik dari masing masing program. Tak lupa, di sesi ini pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid turut hadir.

Dalam sambutannya beliau berpesan kepada audiens agar menuntu ilmu tanpa membatasi apapun. “Kapanpun, dimanapun, bagaimanapun kita tetap berdakwah. Dalam menuntut ilmu, jangan kenal batas.” Ungkap beliau.

Kemudian acara ditutup dengan orasi ilmiyah oleh Kh. Moh. Jaiz Badri. Yang rencana awalnya mendatangkan Dr. Ahmad Zayadi, MA (Dirjen Pendis kemenag) namun beliau tidak bisa hadir dikarenakan ada halangan.

Disisi lain, wisuda seperti ini sebetulnya sebagai media dakwah agar orang lain bisa lebih tertarik untuk belajar dan mengkaji kitab kuning di ma’had aly. Karena melihat kondisi saat ini, anak anak sulit tertarik untuk belajar kitab, “dan juga sebagai pembuktian kualitas bagi mereka yang masih belum percaya kepada ma’had aly” tambah pengurus yang akrab disapa ustaz Dani tersebut.

Dalam orasi ilmiyah, KH. Jaiz Badri menyampaikan pentingnya untuk ber tafaqquh fiddin karena musibah pada zaman ini adalah hilangnya kecintaan mendalami ilmu agama. “Untuk apa tafaqquh? Kalau bicara ilmu semua orang bisa, kalau fiqih tidak semua bisa. Musibah kita di zaman ini, tiadanya cinta atau mahabbah pada ilmu. Teruslah bertafaqquh, teruslah mengaji. ” Ungkap pengasuh Pondok Pesantren Badridduja – Kraksaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *