Tanwirul Afkar sebagai majalah buah pemikiran mahasantri Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo mengadakan pengajian tematik dengan narasumber dosen atau ustad Ma’had Aly sendiri. Tema yang diusung mengenai zakat, puasa, lailatul qadr, nuzulul quran, shalat ied, dan halalbihalal.

Kegiatan ini dilaksanakan di tengah pandemik Covid-19. Kru yang biasanya tatap muka dengan pembaca, kini mereka hanya bisa tatap muka lewat layar kaca. Ketua Amali, KH. Dr. Abd. Djalal, M.Ag. kebagian mengisi tema “Zakat dan Puasa Perspektif Sosial dan Masyarakat” dengan durasi waktu 45 menit.

Zakat dan puasa memiliki hubungan yang sangat erat. Alquran mewajibkan manusia berpuasa agar manusia bertakwa. “Salah satu aktualisasi ketakwaan adalah menyisihkan rizki kepada orang lain.” Ungkap Yi Djalal.

Dalam islam, ketakwaan tidak hanya keberimanan, tapi harus diejawantahkan dalam amal saleh. “Disitulah perbedaan pokok konsep ketakwaan Islam dengan agama lain. Ketakwaan tanpa amal shaleh hanya menjadi kesalehan individual. Amal shaleh tanpa ketakawaan hanya menjadi kesalehan sosial. Dimesni ketakwaannya menjadi tidak lengkap.”

KH. Dr. Abd. Djalal, M.Ag. menjelaskan tujuan berpuasa dikaitkan dengan zakat dengan mengutip kitab Maqashid as-Shaum.  Perlu diketahui, beliau mendapatkan gelar doktor setelah menulis disertasi mengenai Konsep Maslahah menurut Izzudin bin Abd Salam. Tujuan berpuasa adalah mengangkat derajat, menghapus dosa, menahan syahwat, menyempurnakan ketaatan, dan memperbanyak sedekah.  “Mengapa puasa bisa membangkitkan manusia untuk bersedekah? Karena  setelah ia tidak makan dan tidak terpenuhi kebutuhan pokoknya, ia akan merasakan betapa susahnya orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.  Dari situ, akan muncul rasa iba untuk peduli kepada sesama. Makanya, orang Islam diwajibkan berzakat setelah puasa 30 hari.” Begitu penjelasan Pak Djalal mengenai hubungan puasa dengan zakat.

Dalam penjelasan penutupnya, beliau menyinggung masalah zakat kepada guru ngaji. “Masyarakat kita tidak bisa memberikan apapun kepada guru ngaji selain zakat itu. Dan masyarakat merasa puas jika sudah membayar zakat kepada mereka. Makanya, masyarakat diam, tidak ada yang mempermasalahkan. Mereka itu pejuang yang ikhlas lahir batin di jalan Allah. Minyak tanah untuk penerangan lampu dibeli dari uang saku para guru ngaji. Bahkan ngaji diliburkan jika tidak ada uang untuk beli minyak tanah.” Pungkasnya.

tayangan tersebut bisa disaksikan di Fb Tanwirul Afkar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *