AMALI.OR.ID, JAKARTA – Keputusan pemerintah membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren sebagai unit eselon I baru di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia mendapat sambutan hangat dari Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI). Kehadiran direktorat khusus ini dinilai sebagai tonggak sejarah sekaligus angin segar bagi pengembangan ekosistem pondok pesantren.
Ketua AMALI, Dr. H. Nur Salikin, M.A., secara khusus menyampaikan ucapan selamat atas terbentuknya direktorat tersebut.
“Selamat, ini merupakan sebuah keberkahan dan harapan baru bagi pesantren,” ungkap Nur Salikin, Minggu (20/9/2026).
Menyongsong transisi tata kelola ini, Nur Salikin menitipkan harapan besar agar eksistensi Ditjen Pesantren tidak sekadar menjadi transformasi administratif. Ia mendesak agar direktorat baru ini langsung mengambil langkah taktis, berfokus pada program-program strategis, serta hadir sebagai solusi untuk memecahkan berbagai problem krusial yang belakangan marak terjadi di lingkungan pesantren.
Dari sisi akademik, AMALI juga menyoroti pentingnya penguatan Ma’had Aly sebagai institusi pendidikan tinggi khas pesantren. Nur Salikin menegaskan bahwa integrasi dan sinergi Ma’had Aly dengan berbagai pemangku kepentingan harus segera dieksekusi agar perannya semakin maksimal.
“Adanya Ditjen Pesantren, New Bait al-Hikmah harus jadi corong yang kuat,” tegasnya, merujuk pada kebangkitan pusat literasi dan peradaban keilmuan Islam nusantara.
Sebagai informasi, pembentukan Ditjen Pesantren didasari oleh Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026. Kehadiran regulasi ini memisahkan urusan pembinaan pondok pesantren yang sebelumnya masih menginduk pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis).
Langkah otonomi kelembagaan ini resmi berjalan seiring dengan pelantikan Dr. H. Basnang Said, S.Ag., M.Ag., sebagai Direktur Jenderal Pesantren yang pertama. Pelantikan tersebut telah dipimpin langsung oleh Menteri Agama di Kantor Pusat Kemenag, Jakarta, pada Selasa (15/9/2026) lalu. (*)
Editor: Yusuf Arifai/Tim Media AMALI


