AMALI.OR.ID, KEDIRI – Kementerian Agama (Kemenag) RI terus memperkuat ekosistem keilmuan dan kelembagaan pondok pesantren agar mampu beradaptasi dengan perkembangan global tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Langkah tersebut diwujudkan melalui penguatan riset Ma’had Aly di kancah internasional, inisiasi pembukaan Program Studi (Prodi) Manajemen Pesantren di perguruan tinggi Islam, hingga pembekalan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan robotik bagi ribuan santri.
Hal itu mengemuka dalam pembukaan konferensi internasional Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (MU’TAMAD 2026) yang digelar di Ma’had Aly Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (29/10/2026) siang.
Forum ilmiah yang berlangsung hingga Sabtu (31/10/2026) ini mengusung tema “Menuju Pesantren Transformatif dalam Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia”.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kemenag RI, Dr. H. Basnang Said, M.Ag., yang hadir mewakili Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., mengatakan bahwa peningkatan status Direktorat Pesantren dari unit Eselon II menjadi Direktorat Jenderal (Eselon I) pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi modal penting dalam menyetarakan posisi Ma’had Aly dengan perguruan tinggi keagamaan lainnya.
Saat ini, terdapat 95 Ma’had Aly di seluruh Indonesia dengan total sekitar 30.000 mahasantri, di mana Ma’had Aly Lirboyo menjadi salah satu yang terbesar dengan jumlah 5.000 mahasantri.
Untuk memperluas tata kelola dan kajian akademik kepesantrenan, Ditjen Pesantren bersama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) tengah merancang pendirian Prodi Manajemen Pesantren pada UIN dan IAIN, sekaligus membentuk Pusat Studi Kepesantrenan.
“Pesantren adalah lembaga besar yang punya regulasi tersendiri, sejarah, serta keunikan manajemen yang berbeda-beda di setiap daerah. Karena itu, kami menginisiasi adanya Prodi Manajemen Pesantren serta Pusat Studi Pesantren di PTKIN. Alhamdulillah, pagi tadi kami juga baru meresmikan Pusat Studi Kepesantrenan di UIN Syekh Wasil Kota Kediri, sehingga saat ini sudah ada lima PTKIN yang memiliki pusat studi tersebut,” ujar Basnang, Kamis (29/10/2026).
Keberadaan Pusat Studi Pesantren di kampus-kampus daerah ini juga disiapkan untuk mendampingi pemerintah daerah dan DPRD dalam menyusun naskah akademik Peraturan Daerah (Perda) tentang Pesantren di wilayah masing-masing.
Padukan Keilmuan Klasik dengan Teknologi AI dan Robotik
Lebih lanjut, Basnang menilai santri memiliki modal karakter (soft skill) yang kuat seperti kemandirian, kejujuran, kedisiplinan, dan ketawadukan.
Di sisi pemikiran, pesantren juga tetap mempertahankan metodologi keilmuan klasik seperti ilmu mantik, arudl, dan balaghah (ma’ani, bayan, badi’) yang menjadi fondasi lahirnya produk-produk hukum Islam dari Ma’had Aly.
Guna melengkapi kekuatan karakter dan keilmuan klasik tersebut dengan keterampilan teknis (hard skill), Kemenag melalui Direktorat Pemberdayaan Pesantren memfasilitasi pelatihan teknologi mutakhir bagi para santri.
“Negara harus hadir menjembatani antara soft skill yang dimiliki santri dengan keterampilan yang disiapkan negara. Melalui Direktur Pemberdayaan Pesantren, sudah ada 5.000 santri yang kita latih Artificial Intelligence (AI) bersama Microsoft, dan insyaallah segera menyusul bantuan robotik bagi 350 pondok pesantren,” jelasnya.
Ia turut mendorong agar makalah dan hasil kajian para dosen maupun mahasantri Ma’had Aly dalam forum MU’TAMAD 2026 dapat menembus jurnal terindeks Sinta 1, Sinta 2, hingga Scopus agar pemikiran dunia pesantren Indonesia dapat dibaca oleh akademisi global.
Targetkan 10 MoU Internasional
Sebagai forum akademik berskala global, MU’TAMAD 2026 dirancang untuk mendiseminasikan nilai Islam Wasathiyah, merumuskan peta jalan internasionalisasi pesantren, serta membangun jaringan keilmuan dunia.
Acara ini melibatkan sejumlah mitra luar negeri, di antaranya Islamic League (Mesir), Sultan Idris Education University (Malaysia), American Islamic College (Amerika Serikat), dan Coventry University (Inggris).
Puluhan panelis yang hadir secara luring maupun daring memaparkan karya ilmiah mereka ke dalam tujuh subtema, yakni Islam Wasathiyah dan Pendidikan Islam Moderat; Pesantren Transformatif (Kurikulum, Pedagogi, dan Standar Mutu); Internasionalisasi Pesantren dan Jaringan Keilmuan Global; Menjaga Warisan dan Identitas Islam Indonesia dalam Diplomasi Budaya Global; Kajian Islam, Kemanusiaan, dan Peradaban Dunia; Harmonisasi Kurikulum dan Akreditasi dalam Pendidikan; serta Transformasi Digital, Inovasi, dan Pesantren.
Dari konferensi internasional selama tiga hari ini, penyelenggara menargetkan luaran berupa naskah rekomendasi kebijakan (policy brief), penerbitan prosiding global, serta penandatanganan sedikitnya 10 Nota Kesepahaman (MoU) internasional.
Pembukaan kegiatan tersebut turut dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Anwar Manshur dan KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Ketua Umum MUI Pusat sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH. Anwar Iskandar, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo KH. Atho’illah Sholahuddin Anwar, Pengasuh Ponpes Salafiyah Terpadu Ar-Risalah Dr. Hj. Ainaul Mardliyah, Direktur PTKI Kemenag RI Prof. Dr. KH. Sahiron, Ketua MUI Bidang Pendidikan Prof. Dr. Faisol, Rektor UIN Syekh Wasil Kota Kediri Prof. Dr. Wahidul Anam, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, serta jajaran direktur di lingkungan Ditjen Pesantren Kemenag RI. (*)
Editor: Yusuf Arifai


